Manajemen CINTA

Dear Sahabats,

Seringkali dalam dunia kerja, kita menghadapi kendala dengan bawahan.
Seringkali kita temukan bawahan dismotivasi, tidak taat perintah, malas, hitung-hitungan & tidak setia.

Beberapa ‘teori dunia’ mengajarkan kita sebagai pemimpin untuk BERUBAH,
untuk menerapkan PUNISHMENT, untuk SEMAKIN TEGAS, untuk mempersiapkan PENGGANTI,
tapi walaupun sudah melakukan semuanya seringkali atasan jadi bingung & stress,
karena NYARIS tidak ada perubahan dari bawahan.

Atasan seringkali berakhir dalam STRESS,
karena bawahan tetap tidak BERUBAH.

Dashyat.

 

Sahabats simak baik,

“Banyak HAL BAIK merupakan buah dari KECINTAAN.”

Dashyat.

Ya,
Aku percaya setiap Sahabat pasti pernah jatuh cinta,
dan aku percaya setiap Sahabat juga pernah merasakan apa yang aku rasakan,

Saat jatuh cinta, aku saat melakukan tugas berat dari kekasih hati rasanya RINGAN.
Saat jatuh cinta, aku menuruti (baca: TAAT) permintaan (baca: perintah) kekasih hati sangatlah mudah.
Saat jatuh cinta, aku rela BERKORBAN dan tidak hitung-hitungan masalah ketidakadilan.

Juga,
Saat jatuh cinta, aku melakukan banyak hal dengan SEMANGAT ekstra & penuh kebahagiaan.
Saat jatuh cinta, aku SETIA.
Saat jatuh cinta, aku bersedia untuk BERUBAH.

Ya,
Saat JATUH CINTA, banyak hal baik yang dihasilkan.

Dashyat.

Jika demikian,

Jika kita ingin bawahan kita untuk RINGAN melakukan semua tugasnya,
Jika kita ingin bawahan kita untuk TAAT perintah atasan,
Jika kita ingin bawahan kita untuk rela BERKORBAN & tidak hitung-hitungan,

Jika kita ingin bawahan kita untuk bekerja penuh SEMANGAT & kebahagiaan,
Jika kita ingin bawahan kita untuk SETIA,
Jika kita ingin bawahan kita untuk BERUBAH,

Kita harus membuat mereka JATUH CINTA.

Dashyat.

Kita harus membuat mereka jatuh cinta kepada PERUSAHAAN,
Kita harus membuat mereka jatuh cinta kepada ATASAN,
Kita harus membuat mereka jatuh cinta kepada PEKERJAAN,

Kita harus membuat mereka JATUH CINTA.

Karena,
Saat JATUH CINTA, banyak hal baik yang dihasilkan.

Dashyat.

 

Sahabats dengar baik,

“Bandingkan HASIL dari yang melakukan sesuatu dengan DELAPAN KALI kecintaan,
dengan yang melakukan sesuatu dengan SEPERDELAPAN kali kecintaan.”
(Mario Teguh)

Ya,
KUALITAS berjalan erat dengan KECINTAAN.

Walau pelatihan yang diberikan jauh dari sempurna,
Walau masih kekurangan fasilitas & alat kerja,
Walau insentif & bonus yang dijanjikan kurang memotivasi,

Karena CINTA,
KUALITAS kerja yang dihasilkan bawahan akan baik bahkan sangat baik.

Ujungnya,
pelanggan akan terpuaskan.

Bahkan,
Pelanggan akan mulai JATUH CINTA kepada BAWAHAN kita,
Pelanggan akan mulai JATUH CINTA kepada PERUSAHAAN kita.

Dashyat.

 

Akhirnya Sahabats,

Aku mengubah cara pelatihanku kepada karyawan,
bukan sekedar pelatihan untuk memotivasi mereka,

Tapi kini,
aku berjualan tentang CINTA.

Aku juga mengubah cara kepemimpinanku kepada bawahan,
bukan menjadi pemimpin yang cenderung DIKTATOR,
bukan memaksa bawahan untuk taat karena RASA TAKUT,

Tapi kini,
aku menerapkan MANAJEMEN CINTA.

 
Bogor, 25 Februari 2011
Robby Hadisubrata

Dipakai Menjadi AlatNya

Dear Sahabats,

Tidak ada yang istimewa di pagi itu.
Malah, aku berantem kecil dengan istri.

Akibatnya,
pagi itu aku tidak menjalankan fungsiku sebagai IMAM,
yakni mendoakan istriku untuk berkat & anugrahNya di hari tersebut.

Hari kulalui dengan hati yang kesal.
 
Tidak disangka,
sorenya saat pulang kantor, banku pecah di tengah jalan.
Terbersit dalam pikiranku bahwa ini PERINGATAN Tuhan untuk memperbaiki segala yang salah hari itu.

Tapi aku TETAP mengeraskan hati.

 
Malam itu,
hatiku masih berkeras.

Aku langsung tidur sepulang dari pertemuan di Gereja,
dan aku memilih tidur di kamar tidur tamu, tidak bersama istriku.

Aku MASIH berkeras.

 

Jam 23.30 malam.
Istriku mendadak membuka pintu dan mengabarkan,
salah seorang pasiennya dari Pondok Pemulihan Orang Gila,
dalam kondisi kesakitan di rumah salah seorang pengerja.

Kita harus kesana, SEKARANG !

Dalam posisi setengah tidur,
aku bangkit dan segera bersiap2.

Hilang sudah hati yang keras,
hilang sudah EGO yang mempertahankan harga diriku.

 

Sahabats yang dikasihi Tuhan,

Istriku memang seorang dokter yang terlibat dalam pelayanan pemulihan orang gila di Gereja lokal tempat kami beribadah.
Hari itu memang ada seorang pasiennya, yang sejak dirawat 12 hari yang lalu,
hingga sekarang, TIDAK MAU makan dan minum.

Memang hari itu istriku seharian sibuk mengurus pasien ini,
karena kondisinya sudah lemah & kritis,
yang akhirnya terpaksa diinapkan di rumah salah seorang pengerja Gereja sambil diinfus.

 

Jam 24.00 malam.
Kami pun tiba di lokasi.

Segera istriku merawat dan mengobati Abdul,
anak muda gila (20 thn) yang saat ditemukan sedang berjalan telanjang bulat di jalan.

Kami semua bingung,
karena walau kondisi membaik,
Abdul tetap MENOLAK diberi makan dan minum.

Dia bahkan meludahi dan menendang istri saya & pengerja yang mencoba memberinya susu.

Tiba-tiba terdengar jelas suara Roh Kudus di telingaku :

“Tolong dia, dia butuh dimotivasi, bukan diancam atau ditakut-takuti”.

Hatiku diam.

Aku ragu.

Lalu Roh Kudus mengingatkan lagi :

“Ingat, belum lama ini kamu mendengarkan kotbah di Bogor ttg motivasi & semangat?
Inilah saatnya kamu praktekkan kotbah itu!”

Ya,
memang kotbah itu sangat bagus.
Sampai pada saat pulang kantor, aku langsung mencatat ulang kotbah tersebut dalam komputerku.

 

Sahabats simak baik,

Akhirnya aku melangkah.

Semua saya mohon utk keluar dan tinggallah saya bersama Abdul di kamar itu.
Terdengar erangan Abdul yang terus menerus berkata,”ibu tolong…ibu tolong…”.

Akupun mulai bercerita, tak perduli dengan erangan Abdul tanpa henti.
Dari segala hal hingga firman Tuhan mulai kuselipkan masuk.

Kesaksian hidupku pun kuceritakan, karena dulu pun Tuhan pernah tolong aku saat aku dalam kondisi STRESS mau bunuh diri.
Aku berkata :

“Ini hanyalah masalah PILIHAN.
Pilihlah yang benar, jangan yang salah.
Kini aku bisa seperti ini, hidup bahagia karena saat itu aku memilih yg benar & tidak bunuh diri.”

Tak terasa 30 menit berlalu cepat.
Roh Kudus menuntunku utk mengakhiri sharingku ini,
dengan berdoa utk Abdul dan meminta Abdul untuk tidur.

Tak lama saya keluar dari kamar,
erangan Abdul perlahan berhenti dan digantikan suara mendengkur halus.

Dia TERTIDUR.

Dashyat.

 

Sahabats yang penuh cinta,

Butuh 15 menit kami sampai ke rumah.

Baru mau membuka pintu, telepon istriku berdering.
Dia lemas saat melihat itu telepon dari rumah pengerja tempat Abdul menginap,
istriku menduga pasti ada apa2 dan kita harus balik lagi.

Telepon diangkat, kata-kata pertama yang terdengar :

“PUJI TUHAN DOK”

Ternyata Abdul bangun, BANGKIT dari tempat tidur,
lalu mencabut infus dan MINUM air infus.

Setelah itu dia MINUM 4 gelas susu dan MAKAN 2 piring bubur,
yang disiapkan pengerja Gereja tersebut.

Dashyat.
 

Akhirnya Sahabats,

Kami berdua hanya bisa diam dan air mata mengalir.

Oh Tuhan,
Besar pengampunanMu atas kesalahan kami.

Betapa anugerahMu indah, kami yg tidak layak ini,
Kau pakai menjadi alatMu dalam peristiwa ini.

Perasaan yang tidak bisa dijelaskan,
bisa mengalami bahkan terlibat menjadi alatNya dalam MUKJIZAT TUHAN.

 
Bogor, 24 Juni 2010
Robby Hadisubrata

Garam & Terang DUNIA

Dear Sahabats,

Saat kita berbicara DESTINY (tujuan/goal) dalam hidup kekristenan,
kita semua sepakat:

Untuk menjadi GARAM & menjadi TERANG.

 
Mungkin sama seperti aku,
sahabat telah membaca Firman tentang Garam & Terang puluhan kali,
juga mendengar kotbah tentang Firman ini ratusan kali,
tapi apa yg aku dapatkan belum lama ini, BELUM PERNAH aku dapatkan dari siapapun.

Ya,
Roh Kudus meng-iluminasi-kan Firman ini kepadaku,
dengan cara yang sama sekali berbeda dari yang pernah aku dapatkan.

 

Sahabats simak baik,

“Kamu adalah GARAM DUNIA.
Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?
Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Kamu adalah TERANG DUNIA.
Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang,
melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang,
supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”
(Matius 5:13-16)

Dashyat.

 
Sudah lama dalam perenunganku muncul pertanyaan dalam benakku,
Kenapa Tuhan Yesus harus menggambarkannya dengan 2 perumpamaan bukannya satu?
Kenapa tidak Garam saja atau Terang saja?
Kenapa Garam & Terang?
Kenapa Garam dulu, baru Terang?

Dashyat.

 
Garam, jika tidak asin, tidak ada gunanya lagi.
Garam dibuat dengan FUNGSI untuk mengasinkan.

Ya,
PANGGILAN dari Garam adalah untuk mengasinkan.
Sehingga jika tidak asin, tidak berfungsi sesuai peruntukkannya,
menjadi tidak ada gunanya.

Dan,
Tuhan sedang mengingatkan kita, untuk sungguh2 menemukan PANGGILAN kita,
dan berfungsi sesuai dengan panggilan tersebut.

Jika engkau diberi karunia menyanyi, melangkahlah dalam itu, berlatihlah sungguh2 dan fokus dalamnya.
Jika engkau diberi karunia mengajar, berjalanlah mantap dalamnya,
terus kembangkan dan layanilah Tuhan dengan talentamu.

Jika tidak,
apalah gunanya, selain dibuang dan diinjak orang.

 

Tuhan meminta kita untuk menemukan,
& berjalan sesuai PANGGILAN (calling) kita masing-masing.

Dashyat.

 
Lalu,
sesudah berbicara tentang Garam, Tuhan berbicara tentang Terang.
Tapi Tuhan tidak memberi penjelasan yang sama dengan Garam.
Tuhan tidak menjelaskan jika Terang itu menjadi gelap, tidak ada gunanya lagi.

Tuhan malah berkata, Terang pasti akan TERLIHAT oleh sekitarnya,
dan akan DILETAKKAN DI ATAS untuk lebih efektif menerangi sekitar.

Ya,
Tuhan sedang mengingatkan kita, jika kita berjalan & terus mengembangkan talenta sesuai panggilan kita,
semakin lama kita akan menjadi SEMAKIN AHLI,
kita akan SEMAKIN MENONJOL dan TERLIHAT oleh orang lain di sekitar kita.

 

Kita akan menjadi TERKENAL karena keahlian kita.

Dashyat.

 
Lalu,
Tuhan akan mengangkat kita NAIK menempati posisi2 di atas,
menjadi KEPALA dan bukan ekor,
agar semua orang disekitar kita melihat kebaikan Tuhan atas diri kita,
dan melalui kehidupan, kesuksesan & kesaksian kita,
akhirnya mereka juga INGIN menyembah Tuhan Allah yang kita sembah.

Dashyat.

 

Jadi,
Memenangkan jiwa bukan berarti kita harus menjadi hamba Tuhan lalu berkotbah kemana-mana.

Dengan kita berjalan dalam panggilanNya pun,
kita dapat memenangkan jiwa-jiwa melalui KESAKSIAN hidup kita.

Dashyat.

 

Akhirnya Sahabats,

Jika kita melihat tokoh2 yang dipanggil Tuhan dalam alkitab,
Tuhan tidak pernah berbicara SKALA KECIL dalam hal berdampak,
melainkan skala KOTA, BANGSA bahkan BANGSA-BANGSA.

Lihat Yunus, dipanggil untuk membuat satu KOTA bertobat.
Lihat Musa, dipanggil untuk menyelamatkan BANGSA Israel dari Mesir.
Lihat Paulus, dipanggil untuk menginjil ke BANGSA-BANGSA.

 
Oleh karenanya aku terlalu percaya,
jika kita berjalan dalam PANGGILAN kita,
dan jika kita terus mendengar & taat tuntunan Tuhan,

Saatnya akan tiba,
kita pasti akan diangkat Tuhan di level kota, bangsa & bangsa-bangsa,
dan akhirnya,

Kita akan menjadi GARAM & TERANG DUNIA.

 
Bogor, 28 September 09
Robby Hadisubrata.